Review Jurnal III

Senin, 01 November 2010


Tema         : Loyalitas Konsumen
Pengarang : Gede Riana
  (Jurusan Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana)
Tahun       : 2008

Pengaruh TRUST IN A BRAND  TERHADAP BranD LOYALTY
(KONSUMEN AIR MINUM AQUA DI KOTA DENPASAR)

Latar Belakang dan Perumusan Masalah
           Kesetiaan pelanggan tidak dapat begitu saja diraih oleh PT. Aqua, tetapi memerlukan proses panjang untuk meyakinkan bahwa Aqua merupakan air minum terbaik. Dari hal tersebut diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.     Apakah variabel brand characteristic, company characteristic, dan consumer brand characteristic secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap brand loyalty pada konsumen air minum Aqua ?
2.    Apakah variabel brand characteristic, company characteristic, dan consumer–brand characteristic secara parsial berpengaruh signifikan terhadap brandloyalty pada  konsumen air minum Aqua serta variabel mana yang berpengaruh dominan ?

Tujuan Penelitian
1.     Untuk mengetahui pengaruh secara bersama-sama variabel brand characteristic, company characteristic, dan consumer – brand characteristic terhadap brand loyalty pada konsumen air minum Aqua.
2. Untuk mengetahui pengaruh secara parsial variabel brand characteristic, company characteristic, dan consumer–brand characteristic  terhadap brand loyalty pada konsumen air minum Aqua serta variabel yang dominan berpengaruh.

Metodologi Penelitian
1.  Hipotesis
(a) Variabel brand characteristic company characteristic dan consumer – brand characteristic  secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap brand loyalty.
(b)  Secara parsial variabel brand characteristic, company characteristic, dan consumer – brand characteristic berpengaruh signifikan terhadap brand loyalty dan yang mempunyai pengaruh dominan adalah variabel brand characteristic.
2.  Identifikasi Variabel
Variabel-variabel dalam penelitian ini meliputi tiga variabel independen (X), yaitu brand characteristic (X1), company characteristic (X2), dan consumer–brandcharacteristic (X3). Sebaliknya, variable dependen (Y) hanya satu yaitu brand loyalty.
3.  Penentuan Populasi dan Sampel
Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan Quota Accidental Sampling,
n = 5 x I = 5 x 19 = 95
Keterangan :
n = Ukuran sampel
I = Jumlah indikator variabel bebas yang diteliti
Karena lokasi penelitian mempunyai wilayah yang cukup luas, responden yang dijadikan sampel penelitian diperluas menjadi enam kali jumlah indicator variabel bebas menjadi 114 orang responden.
4.  Jenis dan Sumber Data
Data primer, merupakan data yang diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner kepada warga masyarakat Kota Denpasar yang mengkonsumsi air minum Aqua.
Data sekunder, yaitu data yang bersumber dari PT Tirta Investama dan sumber-sumber lain yang telah tersedia sebelumnya berkaitan dengan penelitian.
5.  Teknik Pengumpulan Data
         (a) Wawancara
         (b) Observasi
6.  Uji Validitas dan Reliabilitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat keabsahan dan kevalidan suatu alat ukur atau instrument penelitian. Sedangkan Reliabilitas memperhatikan sejauh mana alat ukur dapat diandalkan dan dipercaya.
7.  Teknik Analisis Data
   (a) Metode Suksesif Interval
       (b) Uji Asumsi Regresi Berganda
   (c) Analisis Regresi Berganda
Y = β0+ β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + e
Keterangan :
Y  = Brand Loyalty               X1  = Brand characteristic
β0 = Constanta                    X2 = Company characteristic
β1β2β3= Koefisien Regresi     X3 = Consumer-brand characteristic

Hasil Penelitian
Dari pernyataan pada kuesioner yang telah diajukan kepada responden diperoleh
berbagai macam tanggapan terhadap variabel trust in a brand, yang telah diringkas dan disajikan di bawah ini :
1.    Brand characteristic
Mengacu pada distribusi skor dapat diketahui bahwa sebanyak 81,94 % responden setuju dengan kondisi dari dimensi brand characteristic air mineral Aqua dan 18,06 % responden menyatakan tidak setuju. Ini menunjukkan bahwa dimensi brand characteristic dapat membentuk kepercayaan responden terhadap air mineral Aqua.
2. Company Characteristic
Apabila ditinjau dari jawaban responden, yang sangat setuju, setuju, dan cukup setuju sebanyak 327 atau 71,71 %, sedangkan total jawaban responden yang tidak setuju dan sangat tidak setuju sebanyak 129 atau 28.29 %. Jadi, dapat dijelaskan bahwa dimensi company characteristic dapat membentuk kepercayaan responden terhadap air mineral Aqua.
3.  Consumer – Brand Characteristic
Apabila ditinjau dari jawaban responden, yang sangat setuju, setuju, dan cukup setuju sebanyak 246 responden atau 71,93 %, sedangkan total jawaban responden yang tidak setuju dan sangat tidak setuju sebanyak 96 atau 28.07% Ini berarti bahwa dimensi consumer – brand characteristic dapat membentuk kepercayaan responden terhadap air mineral Aqua.
4.  Brand Loyalty
Apabila ditinjau dari jawaban responden yang sangat setuju, setuju, dan cukup setuju sebanyak 438 responden atau 77,19 %, sedangkan total jawaban responden yang tidak setuju dan sangat tidak setuju sebanyak 132 atau 22.81%. Ini menunjukkan bahwa responden loyal terhadap air mineral Aqua.
5.  Hasil Pengujian Asumsi Klasik
Uji Linearitas
Berdasarkan hasil pengujian yang ada pada lampiran dapat dilihat bahwa garis regresi pada scatter plot semuanya mengarah ke kanan atas. Hal ini membuktikan bahwa adanya linearitas antara variabel brand characteristic, company characteristic, dan consumer brand characteristic dengan brand loyalty.
Uji Normalitas
Dalam grafik terlihat data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal. Dengan demikian, maka model dalam penelitian ini sudah memenuhi uji normalitas.
Uji Multikolinearitas
Dalam analisis ini didapat nilaiVariance Influence Faktor (VIF), dari hasil analisis, didapat ketiga variabel bebas dalam penelitian nilai VIF-nya di bawah 10. Ini berarti bahwa tidak terjadi multikolinearitas antara variabel bebas tersebut.
Heterokedastisitas
Dari hasil perhitungan dengan SPSS didapat korelasi Range Spearmans bahwa tingkat signifikan hasil korelasi untuk tiap-tiap variabel bebas > 5%. Ini berarti bahwa dari persamaan regresi yang digunakan tidak terjadi heterokedastisitas atau dengan kata lain terjadi homokedastisitas.
Uji Autokorelasi
Ada tidaknya autokorelasi dalam penelitian ini dideteksi dengan menggunakan uji Durbin – Watson. Diketahui bahwa nilai Durbin – Watson sebesar 2.025. Nilai tersebut dapat dinyatakan mendekati nilai 2. Jadi, disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi di antara variabel bebas dalam penelitian.
6.  Analisis Regresi Berganda
Analisis Regresi Variabel Trust in a Brand terhadap Brand Loyalty Secara Bersama-sama
Y = -0.660 + 0.289X1 + 0.243X2 + 0.203X3
Keterangan :
Y = Brand Loyalty
X1= Brand characteristic.
X2= Company characteristic
X3= Consumer-brand characteristic.     
Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa secara bersama-sama pengaruh variable trust in a brand terhadap brand loyalty adalah sebesar 94,2 %, sedangkan sisanya sebesar 5,8 % brand loyalty dipengaruhi oleh variabel-variabel lain selain trust in a brand.
Analisis Regresi Trust in a Brand terhadap Brand Loyalty secara Parsial
Secara partial brand characteristic berpengaruh signifikan terhadap brand loyalty yaitu dengan koefisien beta sebesar 0,668 dan tingkat signifikan 0,000. Company characteristic secara signifikan berpengaruh terhadap brand loyalty dengan koefisien beta sebesar 0,224 dan tingkat signifikan 0,000, sedangkan consumer brand characteristic secara signifikan berpengaruh terhadap brand loyalty dengan koefisien beta sebesar 0,165 dan tingkat signifikan sebesar 0,000.

Kesimpulan
1.     Secara bersama-sama variabel trust in a brand yang meliputi brand characteristic (X1), company characteristic (X2), dan consumerbrand characteristic (X3) mempengaruhi brand loyalty. Besarnya pengaruh variabel trust in a brand tersebut adalah 0.942 dengan tingkat signifikan 0.000.
2.    Secara parsial variabel trust in a brand yang meliputi brand characteristic, company characteristic, dan consumer – brand characteristic berpengaruh signifikan terhadap brand loyalty. Brand characteristic (X1) secara signifikan berpengaruh terhadap brand loyalty dengan koefisien beta sebesar 0.668 dengan tingkat signifikan 0.000, company characteristic (X2) cukup signifikan berpengaruh terhadap brand loyalty dengan koefisien beta sebesar 0.224 dan tingkat signifikan 0.000, dan consumer – brand characteristic (X3) cukup signifikan berpengaruh terhadap

Saran dan Usulan Lanjutan
Upaya peningkatan kepercayaan konsumen terhadap brand characteristic tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan intensitas kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat.

Review Jurnal II

Tema         : Loyalitas Konsumen
Pengarang : Agyl Satrio Hutomo
Tahun       : 2008

Pengaruh Kualitas Produk dan Tingkat Kepuasan Konsumen Terhadap Loyalitas Pelanggan
(Tela Krezz Cabang Bekasi)

Latar Belakang
         Pada  umumnya  setiap  usaha  bertujuan  untuk  mencari  keuntungan,  namun untung perhitungan jangka panjang, keuntungan yang besar tidak menjamin kelangsungan setiap perusahaan. Dalam hal ini perusahaan juga perlu mendapatkan loyalitas atau kesetiaan merk dari para konsumennya. Adapun masalah yang dihadapi yaitu :
1.     Apakah  kualitas  produk  mempunyai  pengaruh  yang  positif  terhadap  loyalitas pelanggan?
2.    Apakah kepuasan konsumen mempunyai pengaruh yang positif terhadap loyalitas pelanggan?
3.    Apakah kualitas produk, kepuasan konsumen secara bersama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap loyalitas pelanggan?

Tujuan Penelitian
1.     Untuk  menganalisis  tentang  pengaruh  kualitas  produk  terhadap  loyalitas pelanggan.
2.    Untuk menganalsis pengaruh kepuasan konsumen terhadap loyalitas pelanggan.
3.    Untuk  menganalisis  pengaruh  kualitas  produk,  dan  kepuasan  konsumen  secara bersama-sama terhadap loyalitas pelanggan.

Metodologi Penelitian
Hipotesis Penelitian
H1 :  Kualitas produk berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan.
H2:  Kepuasan konsumen berpengaruh terhadap loyalitas  pelanggan.
H3: Kualitas produk dan kepuasan konsumen secara bersama berpengaruh terhadap loyalitas  pelanggan.
Analisis Data
Untuk  mengetahui  sejauh  mana  pengaruh  kualitas  produk  dan  tingkat  kepuasan konsumen  terhadap  loyalitas  pelanggan,  data  yang  telah terkumpul  dianalisis  menggunakan analisis regresi.

1.   Teknik Penarikan Sampel, yaitu dengan simple  random sampling
2.  Besaran Sampel
      Z2/ 2π (1- π)
n = -------------------
             €2
Nilai € terbesar jika € = π (1- π) adalah 0,5 (1-),5) = 0,25
Nilai level of significance pada confidence level  95%  adalah 1% dan kemungkinan kesalahan sampel (sample error ) ditetapkan 10%, maka nilai n adalah:
      Z2 / 2π (1- π)    Z2/2      1,962
n = ------------------- = -------- = --------- = 96,04
             €2                        4€2     4(0,10)2
         Berdasarkan  pertimbangan  rumus  dan  pendapat  di  atas,  maka  ditetapkan  jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 100 responden

Hasil Penelitian
Berdasarkan  hasil  tabel  di  atas  bahwa  besarnya  Standardized  Coefficients  Beta variabel  kualiatas  produk  sebesar  0,249  dengan  besarnya  nilai  signifikan  adalah sebesar  0,004  lebih  kecil  dari  0,05  dengan  nilai  t  sebesar  2,941  maka  variabel kualitas produk berpengaruh singfinikan terhadap loyalitas pelanggan. Dan  besarnya  Standardized  Coefficients  Beta  variabel  kepuasan  konsumen  0,497 dengan besarnya signifikan adalah sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 dengan nilai t sebesar  5,868  maka  variabel  kepuasan  konsumen  juga  berpengaruh  signifikan terhadap loyalitas pelanggan.
a.    Predictor: (constant), kepuasan, kualitas
b.    Dependent Variable: loyalitas
Dari  uji  Anova  atau  F  test,  didapat  F  hitung  sebesar  32,387  dengan  tingkat
signifikan 0,000. Oleh karena probabilitas (0,000) lebih kecil dari 0,05, maka model  regresi  dapat  dipakai  untuk  memprediksi  variabel  loyalitas  pelanggan atau dapat dikatakan kualitas produk dan kepuasan konsumen secara bersama-sama berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan.
Berdasarkan hasil tabel 3 angka R square sebesar 0,400, hal ini berarti sekitar  40%  loyalitas  dapat  ditentukan  oleh  kualitas  produk  dan  kepuasan  konsumen,  sedangkan  sisanya  (100%-40%  =  60%)  disebabkan  oleh  faktor-faktor  lain  yang  tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Hal ini dapat disimpulkan, bahwa pengaruh dari  kedua  variabel  tersebut  yaitu  kualitas  produk,  dan  kepuasan  konsumen  mempunyai  pengaruh  yang  cukup  baik  terhadap  loyalitas  pelanggan  terhadap  produk.

Berdasarkan tabel 5 maka besarnya persentase kontribusi partial kualitas produk sebesar 21,87% dan besarnya persentase kontribusi partial kepuasan konsumen adalah sebesar 71,13%. Dalam hal ini bahwa variabel tingkat kepuasan konsumen yang sangat besar kontribusi partialnya terhadap loyalitas pelanggan pada produk makanan Tela Krezz Cabang Bekasi.

Kesimpulan
1.     Kualitas produk mempunyai pengaruh yang positif terhadap loyalitas pelanggan pada produk makanan Tela Krezz
2.    Kepuasan konsumen mempunyai pengaruh yang positif terhadap loyalitas pelanggan pada produk makanan Tela Krez
3.    Berdasarkan hasil perhitungan dengan analisis regresi berganda, menunjukkan bahwa kualitas produk dan kepuasan konsumen secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang positif signifikan terhadap loyalitas pelanggan.
4.    Jika dilihat dari kontribusi parsial bahwa variabel kualitas produk dan variabel tingkat kepuasan konsumen memiliki pengaruh terhadap loyalitas pelanggan. Dalam hal ini bahwa variabel tingkat kepuasan konsumen yang sangat besar kontribusi partialnya terhadap loyalitas pelanggan pada produk makanan Tela Krezz Cabang Bekasi.

Saran dan Usulan Lanjutan
Untuk penelitian selanjutnya masukan variabel harga dan produk tela lainnya guna mengembangkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

Review Jurnal I

Tema         : Loyalitas Konsumen
Pengarang : Hatane Samuel Foedjiawati
                          (Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra Surabaya)
Tahun       : 2005

Pengaruh Kepuasan Konsumen Terhadap Kesetiaan Merek
(Studi kasus Restoran The Prime Steak & Ribs Surabaya)

Latar Belakang dan Masalah
            The Prime Steak & Ribs adalah salah satu badan usaha berbentuk restoran yang membuka usahanya pada tanggal 11 November 2002 dan berlokasi di Jl. Manyar Kertoarjo 66, Surabaya. Awalnya restoran ini dibuka khusus untuk pelayanan undangan khusus (Soft Opening) saja, akan tetapi dalam kurun waktu kurang lebih satu tahun yaitu pada tanggal 16 Desember 2003, restoran ini juga dibuka dalam bentuk  umum (Grand Openiong).
Berdasarkan hasil survey awal, ada fenomena bahwa konsumen restoran ini makin hari makin bertambah, dan terlihat ada kesetiaan dari pelanggannya dilihat dari frekuensi kunjungan mereka. Hal ini membuat peneliti ingin menganalisis tingkat kesetiaan pelanggan restoran ini berdasarkan tingkat kepuasan mereka.

Tujuan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukkan manajemen mengevaluasi keberhasilan dalam mengolah restoran guna menghadapi pesaing yang semakin ketat dan agresif.

Metodologi Penelitian
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dan konklusif, yang tujuannya untuk mendeskripsikan atribut – atribut kepuasan konsumen dan kesetiaan merek, kemudian dicari hubungan kausal antara kepuasan konsumen dengan kesetiaan merek tersebut.

Identifikasi Variabel dan Model Statistika
            Variabel tidak bebas (Y) adalah kesetiaan merek yang diukur melalui atribut, habital behavior, switching cost, liking of the brand, dan commitment. Variabel bebas (X) adalah kepuasan konsumen yang dikelompokkan menjadi X1 = Attributes related to the product. X2 = Attributes related to the service. X3 = Attributes related to the purchase. Model statistik yang dipakai untuk menyatakan hubungan kausal antar kedua kedua variable di atas adalah model regresi berganda :
Y = β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + €
Populasi, Sampel dan Data
            Populasi penelitian ini adalah seluruh konsumen restoran The Prime Steak & Ribs yang berdomisili di Surabaya dengan sampel diambil dengan cara acak sederhana berdasarkan nomor pengunjung dalam satu minggu pertama dan satu minggu terakhir dalam bulan Mei 2003, sebanyak 110 sampel. Data diperoleh melalui kuisioner yang dijawab responden terhadap pernyataan yang dibuat tentang kesetiaan produk dan kepuasan konsumen. Skala pengukuran yang dilakukan adalah semantic differensial scale (diukur dalam 5 point skala 1 = sangat setuju, 2 = tidak setuju, 3 = netral, 4 = setuju, 5 = sangat setuju), skala pengukuran ini kemudian ditransformasi kedalam Likert yang telah memenuhi skala pengukuran interval.

Hasil dan Kesimpulan
1.     Kepuasan konsumen yang dijelaskan oleh Attributes related to the the product, Attributes related to the purchase di The Prime Steak & Ribs mendapat penilaian yang cenderung baik, walaupun terdapat beberapa atribut yang mendapat penilaian kurang baik.
2.    Kepuasan konsumen untuk beberapa atribut masih mempunyai variasi penilaian yang tinggi, hal ini tentu berkaitan dengan segmentasi konsumen yang berbeda dengan tuntutan pelayanan yang berbeda pula.
3.    Atribut keseringan makan di restoran The Prime Steak & Ribs mempunyai nilai yang rendah dapat merupakan suatu kelemahan dalam mengukur kesetiaan merek.
4.    Terdapat hubungan pengaruh positif yang signifikan antara kepuasan konsumen dengan kesetiaan merek, hal ini menunjukkan bahwa penelitian ini mendukung teori tentang kesetiaan merek.

Saran dan Usulan Lanjutan
1.     Restoran The Prime Steak and Ribs dapat menggunakan kartu anggota bagi pelanggan setia, agar dapat mudah melakukan evaluasi terhadap pelayanan restoran.
2.    Dilihat dari variasi penilaian kepuasan konsumen, maka sangat dimungkinkan untuk restoran melakukan stimuli yang dapat meningkatkan kesetiaan konsumen dengan kesetiaan merek pada penelitian ini.

Ketahanan Nasional

Minggu, 16 Mei 2010

Ketahanan Nasional (Tannas) berpendapat bahwa kelangsungan hidup suatu bangsa atau masyarakat tergantung pada keserasian aspek kehidupan seperti Ideologi-Politik – Ekonomi - Sosial Budaya - Militer, dimana tiap aspek saling mempengaruhi. stabilitas kerja aspek-aspek tersebut akan menciptakan Tannas yang kuat.

Awal Mula Tannas
Tannas lahir di Seskoad (Sekolah Staf & Komanda Angkatan Darat) pada tahun 1969 - 1970, yang pada saat itu berusaha mengembangkan doktrin sendiri tentang national security, berdasarkan pengalaman sendiri dan bangsa lain. Hasilnya menyatakan bahwa kelangsungan hidup suatu masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer saja, tetapi juga tergantung pada kemampuan aspek kehidupan yang lain. Keadaan ekonomi dan konflik antar kelompok karena alasan politik, agama dan sumberdaya dapat menghancurkan kemampuan negara untuk bertahan. Pada tahun 1966 kita menghentikan konfrontasi dengan Malaysia dan Singapore, dan Indonesia tidak ingin dianggap negara yang agresif. Strategi yang mendukung tercapainya Tannas dalam menghadapi ancaman, terutama ancaman militer atau kekerasan adalah strategi tidak langsung, konsep Andre Beaufre – jendral Prancis. Untuk pertahanan dikembangkan Sistem Pertahanan Rakyat Semesta dan untuk kemanan dalam negeri dikembangkan Operasi Keamanan Dalam Negeri, strategi dari keduanya didasarkan pada strategi tidak langsung. Strategi tidak langsung barangkali dapat digambarkan yang dalam bahasa Jawa disebut: “nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake“, yang artinya kira-kira: berlaga tanpa pasukan, menang tanpa mengalahkan. Dalam permainan game/strategi ini disebut “non zero sum game“, dalam suatu penyelesaian sengketa kedua belah pihak mendapat manfaat. Awalnya konsep Tannas ini diberi nama Pembinaan Nusantara, yang terdiri dari pembinaan Wilayah (untuk menciptakan kesejahteraan) dan pembinaan Teritorial (untuk menciptakan keamanan). Keduanya saling berkaitan, tidak mutually eksklusif, kita tidak bisa meng-antagoniskan kedua pembinaan, karena dalam setiap pembinaan kedua unsur tersebut harus diperhatikan, hanya yang mana lebih diutamakan hanya masalah prioritas sesuai dengan kondisi pada saat itu. Teori lain yang dipakai adalah teori kelangsungan hidup suatu social system yang dikembangkan oleh Talcot Parson. Parson berpendapat jika suatu sistem sosial ingin mempertahankan hidupnya dia harus mampu mengembangkan kemampuan: 1. pattern maintainence; 2. adaptation; 3.goal attainment; 4. integration; 5. goal setting. Tidak social system mampu mengembangkan semua fungsi. Sebelum konsep ini berkembang sampai mempunyai kerangka yang jelas, pada tahun 1972 presiden Suharto meminta agar konsep ini dikelola oleh Lemhannas (Lembaga Pertahanan Nasional yang kemudian menjadi Lembaga Ketahanan Nasional. Perkembangan konsep ini kemudian tidak sesuai dengan apa yang semula digagas di Seskoad. Wawasan Nusantara adalah suatu konsep bagaimana bangsa ini melihat dirinya sendiri yang merupakan negara kepulauan. Jika didasarkan hukum yang berlaku pada saat itu, maka Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang dikelilingi perairan teritorial sepanjang 12 mil, maka selebihnya menjadi wilayah internasional, situasi demikian membahayakan keamanan nasional dan internasional, karena rawan konflik. Maka Indonesia mengusulkan agar wilayah laut pedalaman, yang pengukurannya didasarkan berdasarkan pada prinsip-prinsip tertentu dapat menjadi wilayah nasional. Hubungan Wawasan Nusantara dengan Ketahanan Nasional adalah, bahwa Wawasan Nusantara memperkuat dan mempermudah pengelolaan Ketahanan Nasional. Tetapi masalahnya justru adanya Wawasan Nusantara orang berpendapat bahwa sebagai negara maritim kita harus mempunyai kekuatan maritim (baca: Angkatan Laut) yang kuat. Teknologi sekarang sudah memungkinkan terciptanya networking antar unsur untuk mencapai tujuan strategi. Diharapkan generasi muda berusaha mendalami dan menggali pengalaman masa lalu, supaya kita dapat menciptakan konsep yang cucuk dengan suasana dan lingkungan kita sendiri. Manfaat suatu konsep adalah jika dapat dipraktekan, hobi kita suatu konsep untuk terus menjadi wacana, yang hanya menghasilkan orang pintar bicara. Apabila kita menggali ilmu di luar negeri, kita ambil intisari ilmu untuk mengkaji keadaan kita berdasarkan ilmu tersebut. Bukan kita tiru aplikasi ilmu itu dalam kondisi lain, lalu hasilnya ingin diterapkan di Indonesia. Ini akan merugikan bangsa kita, kerugian tidak segera nampak, karena proses berjalan lama. Ibarat kita beli sepatu, tidak cocok di kaki kita, jangan kakinya yang dirubah tetapi sepatunya. Para pemuda harus menggeluti ilmu dari muda, mau mempelajari sejarah secara teliti, karena sejarah adalah masa lalu kita. Masa depan dibangun dari pengambilan hikmah masa lalu. Tetapi juga harus disadari bahwa penulisan sejarah kita, kebanyakan adalah untuk kepentingan penulis atau subyek yang ditulisnya, sehingga sebetulnya tidak bermanfaat untuk kepentingan kita. Pelajari sejarah dan pengalaman secara sangat kritis, jangan takut untuk dicap tidak patriotis, karena pengalaman menunjukkan bahwa orang yang menyebut orang lain tidak patriotis, dia sendiri selalu berlindung dalam kemunafikan.

Hubungan Tannas dengan Wawasan Nusantara
Wawasan nasional bangsa Indonesia adalah wawasan nusantara yang merupakan pedoman bagi proses pembangunan nasional menuju tujuan nasional. Sedangkan ketahanan nasional merupakan kondisi yang harus diwujudkan agar proses pencapaian tujuan nasional tersebut dapat berjalan dengan sukses. Oleh karena itu, diperlukan suatu konsepsi ketahanan nasional yang sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia. Dengan adanya wawasan nusantara, kita harus dapat memiliki sikap dan perilaku yang sesuai kejuangan, cinta tanah air serta rela berkorban bagi nusa dan bangsa. Dalam kaitannya dengan pemuda penerus bangsa hendaknya ditanamkan sikap wawasan nusantara sejak dini sehingga kecintaan mereka terhadap bangsa dan negara lebih meyakini dan lebih dalam. Sehingga untuk bisa mempertahankan Tannas, kita juga harus memiliki wawasan nusantara yang memadai.

Wawasan Nusantara

Indonesia merupakan negara perairan yang memiliki begitu banyak pulau, sehingga negara kita tercinta ini memiliki banyak celah yang dapat dimanfaatkan oleh negara lain untuk meruntuhkan atau bahkan menyebabkan disintegrasi bangsa. Untuk menjaga persatuan dan keutuhan bangsa tentunya bukan hanya tanggung jawab dari pemerintah beserta aparatnya, tetapi juga merupakan tanggung jawab kita sebagai bangsa Indonesia. Oleh karena itu kita harus memiliki wawasan nusantara, sehingga kita juga bisa bertahan dan tetap membanggakan bangsa di tengah maraknya globalisasi saat ini.

Apa itu Wawasan Nusantara?
Berdasarkan teori-teori tentang wawasan yang telah ada, latar belakang falsafah Pancasila, latar belakang pemikiran aspek kewilayahan, aspek sosial budaya dan aspek kesejarahan, terbentuklah satu wawasan nasional Indonesia yang disebut dengan Wawasan Nusantara.
Kata wawasan sendiri berasal dari kata “wawas” yang berarti melihat atau memandang. Jika ditambah dengan akhiran –an, maka secara harfiah bisa berarti cara penglihatan, cara tinjau, cara pandang. Sedangkan nusantara adalah sebuah kata majemuk yang diambil dari bahasa Jawa Kuno yakni nusa yang berarti pulau, dan antara artinya lain.
Sedangkan berdasarkan Ketetapan MPR Tahun 1993 dan 1998 tentang GBHN, Wawasan Nusantara yang merupakan wawasan nasional yang bersumber pada Pancasila dan berdasarkan UUD 1945 adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam menyelengarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional.

Mengapa Wawasan Nusantara?
Sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia dalam membina dan membangun atau menyelenggarakan kehidupan nasionalnya, baik pada aspek politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan rakyat semestanya, selalu mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayahnya. Untuk itu pembinaan dan dan penyelenmggaraan tata kehidupan bangsa dan negara Indonesia disusun atas dasar hubungan timbal balik antara falsafah, cita-cita dan tujuan nasional, serta kondisi social budaya dan pengalaman sejarah yang menumbuhkan kesadaran tentang kemajemukan dan kebhinekaannya dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan nasional. Gagasan untuk menjamin persatuan dan kesatuan dalam kebhinnekaan tersebut dikenal dengan Wasantara, singkatan dari Wawasan Nusantara.
Bangsa Indonesia menyadari bahwa bumi, air, dan dirgantara di atasnya serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Karena itu, dengan konsep wawasan nusantara bangsa Indonesia bertekad mendayagunakan seluruh kekayan alam, sumber daya serta seluruh potensi nasionalnya berdasarkan kebijaksanaan yang terpadu, seimbang, serasi dan selaras untuk mewujudkan kesejahteraan dan keamanan segenap bangsa dan seluruh tumpah darah dengan tetap memperhatikan kepentingan daerah penghasil secara proporsional dalam keadilan.
Untuk itulah, mengapa Wawasan Nusantara perlu. Ini karena Wawasan Nusantara mempunyai fungsi sebagai pedoman, motivasi, dorongan serta rambu-rambu dalam menentukan segala kebijaksanaan, keputusan, tindakan dan perbuatan bagi penyelenggara Negara di tingkat pusat dan daerah maupun bagi seluruh rakyat Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Selain fungsi, Wawasan Nusantara bertujuan mewujudkan nasionalisme yang tinggi di segala aspek kehidupan rakyat Indonesia yang lebih mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan individu, kelompok, golongan, suku bangsa atau daerah. Hal tersebut bukan berarti menghilangkan kepentingan-kepentingan individu . kelompok, golongan, suku bangsa atau daerah. Kepentingan-kepentingan tersebut tetap dihormati, diakui dan dipenuhi, selama tidak bertentangan dengan kepentingan nasional.

Pasal 28F UUD 1945

Sabtu, 06 Maret 2010

”Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.”  
Komunikasi merupakan suatu proses atau sarana penting bagi setiap manusia untuk bersosialisasi dan sosialisasi merupakan salah satu bentuk kehidupan manusia. Dalam proses komunikasi, setiap orang tentunya akan saling bertukar informasi yang ia miliki, entah itu dalam bentuk pendapat, nasehat,atau apapun. Jadi dapat kita bayangkan betapa pentingnya informasi bagi kehidupan manusia di dunia ini. Negara kita tercinta, Indonesia pun menyadari arti sosialisasi bagi warganya, oleh karena itu dibuatlah undang – undang Pasal 28F ini. Namun sayangnya, terkadang manusia Indonesia tidak dapat memanfaatkan atau mengaplikasikan informasi yang dimilikinya dengan penuh rasa tanggung jawab dan kehati –hatian. Hal ini memang termasuk dalam hak asasi manusia dan negara pun telah melindunginya seperti yang tercantum dalam pasal ini. Tetapi bukan berarti kita dapat menggunakan informasi sesuka kita, ada aturan – aturan dalam masyarakat mengenai nilai – nilai kesopanan dan juga etika yang mungkin akan membatasi kita dalam berkomunikasi dna sebaiknya kita betul – betul mencermati hal tersebut.